Sabtu, 21 Juli 2012

RESENSI BUKU ISBD


RESENSI BUKU

Judul Buku       : “ Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar”
Pengarang        : Pamerdi Giri Wiloso, dkk
Penerbit            : Widya Sari Press Salatiga
Tahun Terbit    : 2010
ISBN                : 978-979-1098-02-5
Tebal Buku      : 223 Halaman

Secara operasional, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) harus diambil dan dikuasai oleh setiap mahasiswa dalam rangka pembentukan kompetensi kesarjanaan yang berwawasan sosial budaya. Sehingga ketika berkarya mereka mampu berfikir kritis, kreatif, luas, sistemik-ilmiah, peka dan empatik secara sosial budaya, demokratis, beradap, serta terampil dan arif dalam mencari solusi pemecahan masalah sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan institusional tersebut maka dari itulah buku karya Pamerdi Giri Wiloso, dkk ini ditulis.
Dalam buku Ilmu Sosial dan Budaya Dasar ini disajikan dalam sepuluh bab yang ditulis oleh delapan penulis yang berbeda. Pada bab 1 tentang “Manusia Makhluk Membudaya” yang ditulis oleh Pamerdi Giri Wiloso yaitu seorang lulusan dari Universitas Twente, Nederland berisikan bahwa manusia sebagai makhluk Allah Sang Pencipta yang memiliki akal budi dan diberi hak istimewa  yaitu makhluk yang mampu mengolah realitas dengan segala akal budinya tersebut demi martabat kemanusiaanya. Sehingga manusia secara esensi merupakan makhluk yang membudaya.
Pada bab ke-2 mengenai “Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial” yang ditulis oleh Daru Purnomo yang merupakan seorang Magister Sains dalam Geografi Sosial di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada bab ini menekankan bahwa setiap menusia memiliki dimensi indeividualitas dan sosialitas (Veeger,1985: 4-9). Hakekat manusia secara pribadi pada dasarnya adalah hidup bersama, dan dalam kebersamaan itu akan menimbulkan ikatan dan kesalingtergantungan antara satu sama lain. Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia sangat membutuhkan keberadaan orang lain dan menjalin intraksi melalui kontak dan komunikasi karena dorongan untuyk melakukan imitasi, sugesti, simpati, identifikasi.
Pada bab ke-3 mengenai “Manusia, Nilai, Moral, dan Hukum” yang ditulis oleh Bambang Suteng Sulasmono seorang yang memiliki gelar Doktor dalam Pendidikan Kewargaan Negara di Universitas Negeri Malang, Malang. Dalam bab ini dibahas bahwa setiap kehidupan bersama memiliki nilai-nilai dalam menakar baik buruknya, penting tidaknya, layak tidaknya tidakan seseorang. Nilai sosial umumnya dirumuskan dalam bentuk norma yang dilengkapi sanksi, norma merupakan perumusan konkrit dari nilai yang abstrak  berisi serangkaian petunjuk hidup yang berisi perintah dan larangan dan dilengkapi sanksi bagi pelanggarnya. Dalam norma ada norma hukum yang bersifat memaksa yang diformulasikan secara jelas,tegas dan  diberlakukan oleh lembaga yang berwenang. Dalam sistem tata hukum Republik Indonesia memiliki hukum dasar sekaligus hukum tertinggi  yaitu UUD 1945.
Pada bab ke-4 mengenai “Manusia dan Peradaban” ditulis oleh Tomi Febriyanto seorang Megister Sains dalam Sosiologi dan Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dibahas bahwa kosep penting yang berkaitan dengan dinamika manusia dan kebudayaan adalah peradaban yang merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu yang telah mencapai kemajuan dalam bidang ilmu pegetahuan, tekonologi dan seni yang telah maju. Peradaban terbentuk lewat perubahan sosial dan sebagai penanda akan peradaban yang paling mutakhir adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta proses globalisasi yang menyertainya.
Pada bab ke-5 mengenai “Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia” ditulis oleh Tri Kadarsilo, Dokterandus dalam Pendidikan Geografi Sosial di Universitas Satyawacana, Salatiga. Pada bab ini hakekatnya manusia mampu menciptakan dan menggunakan kebudayaan karena manusia adalah makhluk yang keaktifannya berwajah multidimensional, dan dengan cipta karsa rasa yang terbentuk manusia menciptakan dan menggunakan kebudayaan. Indonesia sebagai titik pertemuan dari berbagai macam ras memiliki pengelompokan kebudayaan suku dengan berbagai 15 kelompok suku dan dengan kebudayaannya masing-masing. Sehingga dalam praktek hidup keseharian, dibutuhkan prinsip pluralitas dan multikulturalisme.
Pada bab ke-6 mengenai “Manusia, Keragaman, dan Kesetaraan” ditulis oleh Suwarto Adi, Magister Sains (Kandiadat) dalam Studi Pembangunan Universitas Satya Wacana, Salatiga. Dalam bab ini individu yang menjalani hidup di tengah masyarakat, seorang manusia menjalankan fungsi dan peran membentuk identitas diri dan masyarakat. Keragaman sosial budaya pembawa dinamika perubahan yang berjalan cepat mesti dikelola secara demoktatis. Keragaman memunculkan problematika yang rumit, dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Dengan demikian keragaman mesti saling mengisi untuk membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang demokrasi.
Pada bab ke-7 mengenai “Pluralitas Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia” ditulis oleh Pamerdi Giri Wiloso, berisikan sebagai sebuah identitas koletif, kebudayaan beraspek statis dan dinamis. Di Indonesia merupakan “perisimpangan lalu lintas arus gerak berbagai corak bangsa dan budaya” sehingga muncul persilangan kebudayaan. Dalam pengelolaan pluralitas kebudayaan di Indonesia harus berjalan secara demokratis, peretisipatonis, dan memberi kesempatan setiap warga negara untuk mampu mencapai suatu tingkat kesadaran bahwa Indonesia lebih luas dari lingkungannya sendiri. Hal yang demikian akan mampu membangun kesadaran kebudayaan daerah disamping kesadaran kebudayaan nasional, dan memperkokoh kepribadian daerah di dalam keanekaragaman kebudayaan Indoneisa.
Pada bab ke-8 mengenai “Manusia, Komunikasi, antara Budaya dan Globalisasi” ditulis oleh Dewi Kartika Sari, Sarjana Ilmu Komunikasi UNS, Surakarta. Pada bab ini berisikan bahwa dalam komukasi antar budaya yang terjadi antar orang–orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Dalam perbedaan ini penyesuaian diri harus terjadi diantara pihak yang berkomunikasi sehingga tercapainya tujuan kegiatan yang melibatkan interaksi tersebut. Era globalisasi akan muncul manusia informasi yang ditandai dengan pembentukan realitas ekonomi berbasis teknologi informasi, namun di tengah gencarnya arus terpaan media massa tetap saja bertahan sikap dimana satu komunitas budaya kesulitan memahami latar belakang komunitas budaya lain sebagai sesama peserta komunikasi lintas budaya.
Pada bab ke-9 mengenai “Kebudayaan IPTEK dan Globalisasi” ditulis oleh Daru Purnomo yang berisikan bahwa di era globalisasi ini semakin dipengaruhi oleh keberhasilan teknologi dan cara berfikir ilmiah. Ilmu sains yang mengobservasi alam materi, yang berupaya mencari hubungan alamiah berpola mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk menguji diri sendiri. Sebagi hasil penerapan sistematik sains untuk kepentingan praktis, teknologi mengalami pengorganisasian secara luas dalam ranah technostructure. Masuknya teknologi dan industri modern dapat mengganggu keseimbangan sosialitas dan individualitas manusia sebagimana mewujud dalam rasa frustasi dan alenasi eksistensi mereka.
Pada bab terakhir mengenai “Manusia dan Lingkungan” ditulis oleh Nick Tunggul Wiratmoko seorang Magister Sains dalam studi pembangunan di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Pada bab ini berisikan dalam hubungan antara masyarakat beserta kebudayaan dengan lingkungan yang menghidupinya ternyata keduanya terlibat dalam hubungan dialetik. Manusia sebagi Imago Dei seharusnya mengelola dan memelihara bumi secara berkelanjutan. Dengan pertumbuhan pendduduk yang begitu cepat, akan muncul persoalan lingkungan. Hal itu harus ditangani dengan meninggalkan paradigma antroposentrisme dan beralih ke paradigma baru yang menempatkan manusia dalm relasi kesetaraan dan kesatuan dengan bumi yang dihuninya.
Selain memaparkan tentang materi Ilmu Sosial Budaya, buku ini juga disertai dengan lampiran yang berisi Tindak lanjut dari matri, tes formatif beserta jawabannya. Sehinga pembaca akan dapat memahami apa yang disampaikan penulis. Pada buku ini juga terdapat rangkuman dari masing-masing bab sehingga akan lebih mempermudah memahami konsep yang disampaikan penulis.
Salah satu kritikan untuk buku ini, penuliskurang mencantumkan ilustrasi atau gambar yang membantu mendeskripsikan materi yang sampaikan. Hanya pada bab ke-10 yang ditulis oleh Nick Tunggul Wiratmoko yang secara jelas memberi gambaran atau ilustrasi, sehingga pembaca akan semakin jelas dengan apa yang diuraikan oleh penulis.
Buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca terutama mahasiswa dalam rangka pembentukan kompetensi kesarjanaan guna ketika terjun di tengah masyarakat mereka mampu berfikir kritis, kreatif, luas, sitemik-ilmiah, peka dan empatik secara sosial budaya, serta terampil dalam memecahkan masalah sosial-budaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar